Selalu Runner Up Apa Salah Timnas Indonesia?

Piala AFF 2016 telah usai, Thailand telah dinobatkan menjadi raja Asia tenggara (lagi). Tahun ini negara Thailand tengah berduka disebabkan kematian rajanya, keberhasilan menang pada mereka di Piala AFF ini pun dihadiahi untuk almarhumah sang Raja.

Lalu bagaimana indonesia? Mereka kembali menjadi runner-up. Kembali merasakan “juara tanpa mahkota”.

menamatkan kompetisi Selayak tim yang dikalahkan sudah biasa dirasakan timnas kita. Baik ajang AFF maupun Sea Games, indonesia lebih terbiasa menjadi runner up ketimbang juara. sesungguhnya ada apa timnas kita ? Ya, timnas seakan nyaman menjadi runner-up, catatan empat kali menjadi finalis Sea Games jauh tambah banyak ketimbang 2 x 1 keluar Selayak peraih medali emas.

akan tetapi di piala AFF Timnas lebih menyedihkan mereka tercatat 5 kali menamatkan turnmen tersebut Selayak runner up. Tak pelak indonesia dijuluki Selayak tim spesialis runner up. Apa yang menjadi penyebab timnas kita senantiasa menjadi runner up ? ada beragam factor memang alasan timnas senantiasa menamatkan sesuatu kompetisi anti k5ks. Coba kita bedah satu persatu apa maalah utama timnas sehingga sering gagal juara.

Materi Pemain teknis indonesia bermain cukup baik di ajang AFF. Baik edisi awal yang mempunyai nama Tiger Cup, hingga sekarang ini yang sudah berpindah tempat nama menjadi piala AFF.

Permainan timnas cukup menghibur pada ajang dua tahunan tersebut. Mereka mempunyai kolektivitas yang cukup tinggi. Terbukti indonesia sudah empat kali memberikankan wakilnya untuk menjadi top skor di kopetisi tersebut.

Tercatat nama nama beken layaknya Gendut Doni ( Edisi 2000), Bambang Pamungkas ( 2002 ), ilham Jaya Kusuma ( 2004 ) dan Budi Sudarsono (2008) pernah menjadi top skorer piala AFF.

Rata rata para pemain Timnas mampu melakukan saingan pemain pemain top Asia Tenggara yang lain.

Mereka mempunyai mutu diatas lapangan, bahkan Bambang Pamungkas, Elie Aiboy Kurniawan D.Y dan Gendut Doni pernah merumput di luar indonesia. Dua nama yang paling akhir dimaksud bahkan gabung tim primavera italia. Bahkan di ajang AFF tahun 2010 Firman Utina berhasil menyabet gelar pemain paling baik.

Timnas pun nyaris tiap edisi memberikankan nama pemain mereka dalam rangkaian xi pemain paling baik. ini memberi bukti timnas mempunyai materi pemain yang bagus, mereka tak mempunyai kendala akan perihal tersebut. Perihal ini juga berlaku pada waktu itu Timnas berkompetisi di Sea Games.

Nasib timnas jauh tambah baik di Sea Games, pada ajang tersebut Timnas 2 x 1 keluar Selayak pemenang, masing masing pada tahun 1987 ( Di Jakarta ) dan 1991 ( Manila ).

Pada tahun 1987 indonesia berhasil bikin kalah Malaysia di final, disaat masa itu diperkuat oleh pemain pemain beken layaknya Ricky Yackobi ( Sempat bermain di Liga Jepang ) maupun Robby Darwis ( Sempat bermain di liga Malaysia ).

waktu itu timnas tak terkalahkan sepanjang kompetisi dan tampil tim paling produktif Thailand yang memproduksi 7 gol sepanjang kopetisi.

akan tetapi pada SEA GAMES 1991, indonesia tergabung di kelompok B tuan Tempat Tinggal Filipina, juara bertahan Malaysia, sertan Vietnam.

semata-mata memberi ingatan, pada waktu itu belum diterapkan kebijakan mewajibkan pada setiap negara membuat turun para pemain U-23 untuk SEA Games. Walau seperti itu, Anatoli Polosin ( pengasuh timnas kala itu ) tetap menyertakan para pemain muda yang belum melewati usia 23 tahun, contohnya Aji Santoso, Widodo Cahyono Putro,dan Rochi Putiray.

indonesia mampu keluar sebgai juara sesudah pada final mereka bikin kalah Thailand melewati babak adu penalti. garis besar materi skuat timnas dari tahun ke tahun telah mempunyai mutu, terasa agak aneh jika materi pemain menjadi alasan Timns sekarang ini miskin gelar.

Cara BermainCara bermain timnas tak banyak alami pergantian dari beragam pengasuh yang menanggulangi timnas, startegi long ball ialah pakaim utama timnas. Sempaat memakai tiga bek era pengasuh ivan Kolev lalu bertukar menjadi 4-4-2 era Alfred Riedl hingga sekarang ini 4-2-3-1 menjadi strategi timnas.

Mereka mengganti formasi akan tetapi tidak menggunakan cara bermain, mereka memang sebenanrnya alami kesusahan pada waktu itu bermain dari kaki ke kaki. Timnas amat amat jarang memenangkan ball possession.

Maka dari itu timnas memainkan umpan-umpan panjang layaknya West Ham dan Stoke di Liga inggris, akan tetapi untuk Perihal ini Timnas perlu ditunjang pemain yang mempunyai kecepatan serta fisik yang kokoh.

Timnas sesungguhnya beberapa kali mencari jalan memainkan ball possession, tak banyak berhasil justru era Polosin yang bikin terapan pengasuhan fisik ala Eropa timur dan kedisiplinan yang tinggi bikin indonesia mampu berjaya.

pada waktu itu era Polosin banyak pemain yang muntah muntah dan tak kuat akan pengasuhan fisik dan kedisiplinanya.

Dahulu kala indra Sajfri menjadi pengasuh timnas pun para pemain sempat disuruh latihan fisik mandi di kolam es batu hasilnya timnas U-19 kita pun berkibar kala itu.

indra Sajfri juga berhasil memainkan sepakbola pendek Evan Dimas Selayak otak terjangan gempuran. akan tetapi sayangnya operan pendek tak terlihat waktu di timnas senior, timnas senantiasa kesusahan memainkan sepakbola pendek.

akan tetapi tak ada masalah menggunakan cara bermain disebabkan baik pada waktu itu era Polosin maupun indra Sajfri mereka memakai taktik yang tidak sama, akan tetapi sama sama menjadikan depan pengasuhan fisik dan kedisiplinan. Hal tersebut yng menjadi kunci timnas untuk berhasil.

Mentalitas Dan Sudut Pandang

Mentalitas kita sekarang ini pun telah tidak sama sekarang ini timnas kita sering diintervensi pemerintah untuk sesuatu kemutlakan. indonesia belum usai merampungkan kompetisi piala AFF akan tetapi pada 2010 timnas diundang ke acara jamuan makan pagi oleh Abu Rizal Bakrie cuma disebabkan memperoleh tiket final piala AFF.

Baru Sebatas menggapai final kita sudah gembira dan bangga sesungguhnya menggapai final sudah biasa buat timnas jika melihat statisyik yang ada sudah pasti semestinya kita baru berpesta pada waktu itu timnas juara bukan cuma berhasil lolos ke final kita berpesta.

Meme pun bernampakan konfrontasi di Sarana sosial pun bertebaran mereka mempresentasikan nada/suara yang intinya “mereka sudah melakukan perjuangan jangan dibully”. sesungguhnya penduduk suka salah konsep antara kritik dan membully apakah tidak boleh memberikan saran pedas timnas yang dari tahun ke tahun stagnan dan minim gelar ?

Jelas AFF kini tidak semestinya indonesia berpuas diri walaupun mereka tak mempunyai kompetisi resmi. Timnas bernaung alasan tersebut “sudah bagus walau tanpa kompetisi bisa tembus final” . sesungguhnya semestinya bersedih cuma menjadi runner up. Timnas harus ciptakan haus keberhasilan menang, haus akan gelar, dahaga akan mahkota, bukan puas akan final semata. keterbataan yang ada. Mengapa timnas senantiasa dihadapkan pada keterbatasan, itu pula yang harus dipecahkan agar persepakbolaan timnas alami kemajuan cepat.

paling akhir indonesia mendapati jamuan undangan dari Kepala Negara, bahkan setiap pemain diberi bonus disebabkan keberhasilanya telah menggapai babak final. Sir Alex Ferguson dalam bukunya menyebutkan bahwa setiap tim harus mempunyai mental juara, mental haus akan keberhasilan menang itulah yang bikin Mancheter United terus menjadi juara, disebabkan ingin juara terus tiap musim ke musim.

Timnas pun harus terus mengasah mentalitas para pemain. sekarang ini pun tidak menggambarkan mental pemenang perilaku Muhammad Abdul Lestaluhu waktu menendang bola disebabkan terprovokasi ialah tindakan yang tidak sesungguhnya mendapat dukungan.

pengasuh juga haru bercocok tanamkan mentalitas pada para pemainya, contohnya ialah Helenio Herrera eks pengasuh inter memberi hukuman salah seorang pemainya disebabkan sat diwawancarai ia berkata “kami (inter) datang untuk bermain di Roma” dan tidaklah “kami datang untuk menang di Roma.

Perihal ini yang perlu dikerjakan oleh timnas. Timnas dapat juga mencontoh salah satu masukan dari Rio Ferdinand. Di rung ganti pemain United U19 Rio mencari jalan memberikan dukungan waktu United muda dibantai 9 kosong oleh Manchester City U19.

Kata kata Rio amat memotivasi dan menakan kalah ialah sesuatu pelajaran dn rasa sakit yang dirasakan. Aga aneh jika Timnas dijujung dandisambut layaknya juara sesungguhnya mereka alami kekalahan dan ini sudah sering berlangsung, seakan puas final.

Harapanya timnas bis memperbaiki Kedisiplinan, Mentalitas, serta mampu memksimalkan potensi pemain yang sudah ada sekarang ini. Mereka mampu untuk terbang tinggi layaknya burung Garuda mengepakan sayapnya. ini cuma maslah mentalitas dan kedisiplinan para pemain terbukti indra Sajfri dan Polosin mampu memberi bukti jika timnas bisa berjaya

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...