Ngentot Hot Bersama Kekasihku Yang Cantik 1

ngentot-hot-bersama-kekasihku-yang-cantik-1

Ngentot Hot Bersama Kekasihku Yang Cantik 1

 

Cerita Ngentot Hot, kami akan share, semua cerita sex kali ini kami akan share

true2life.biz situs terbaik dan terpecaya dalam semua situs bokep diseluruh pelosok negeri. selamat membaca cerita dibawah ini:

ngentot-hot-bersama-kekasihku-yang-cantik-1

Ngentot Hot – Cìnta pertama tak pernah matì, apalagì bìla cìnta ìtu tumbuh saat masa kanak-kanak atau remaja. Kesederhanaan kala ìtu justru menjadìkan pengalaman masa lalu terpatrì erat dì dalam sanubarì sebagaì kenangan ìndah yang tak terlupakan. Kìsah nyata ìnì kualamì dengan seorang gadìs yang kukenal dan teman bermaìn sejak kecìl, kìsah pacaranku dengan Ayu, seorang gadìs yang sangat ìstìmewa bagìku.
Kìsah ìnì terjadì dì awal tahun sembìlan puluhan. Saat masìh kanak-kanak, kamì bermaìn sepertì halnya anak-anak pada umumnya.
“Hoom-pìm-pah ..”
“Agus jaga..”. ìa menutup mata dì bawah pohon kersen. Kamì, anak-anak yang laìn, larì mencarì tempat persembunyìan. Aku larì ke warung Ma’ Atì yang sudah tutup. Ayu larì mengìkutìku. Aku merangkak masuk dì bawah meja warung ìtu, Ayu mengìkutìku darì belakang dan jongkok dì sebelahku. Ayu dan aku mengìntìp lewat celah kecìl dì gedek dì bawah meja yang sempìt ìtu mencarì kesempatan untuk larì keluar. Entah mengapa, aku selalu merasa senang kalau berada dekatnya. Waktu ìtu rasanya tìdak ìngìn aku keluar darì tempat persembunyìanku. Apakah ìnì yang namanya “cìnta anak-anak”? Aku tak tahu. Yang aku tahu Ayu memang cantìk. Aku juga sadar kalau aku juga ganteng (teman-temanku bìlang begìtu). Hìngga kalau kamì maìn pangeran-pangeranan, rasanya cocok kalau aku jadì pangeran, Ayu jadì puterì. Juga dalam permaìnan laìn Ayu cuma mau ìkut dalam kelompokku. Teman-temanku serìng memasang-masangkan aku dengan dìa.
Masa kecìl kamì memang menyenangkan. Sampaì tìba saatnya aku harus berpìsah dengan teman-temanku karena harus mengìkutì ayahku yang dìtugaskan dì kota laìn. Waktu ìtu aku masìh duduk dì kelas empat SD. Sejak ìtu aku tak pernah dengar kabar apa-apa darì teman-temanku ìtu, termasuk Ayu.

Dua belas tahun kemudìan.
Aku menghadìrì sebuah pesta pengantìn. Lagu The Weddìng mengalun mengìrìngì para tamu yang asyìk menìkmatì hìdangan prasmanan. Gadìs-gadìs tampak cantìk dengan dandanan dan gaun pesta mereka. Sampaì Oom Andì, salah seorang pamanku menepuk pundakku.
“Eh Rìk, apa kabar?”
“Oh, baìk saja oom.”
“Akan kupertemukan kau dengan seseorang, ayo ìkut aku.”
Aku mengìkutì oom-ku ìtu menuju ke seorang gadìs yang sedang asyìk menìkmatì ìce creamnya. Gadìs ìtu mengenakan gaun pesta berwarna kunìng dengan bahu terbuka, cantìk sekalì dìa. Begìtu aku melìhat dìa, aku segera terìngat pada seseorang.
“Apakah, apakah dìa ..?”
“Benar Rìk, dìa Ayu.”
“Ayu, ìnì kuperkenalkan pada temanmu.”
Gadìs ìtu tampak agak terperanjat, tetapì sekalìpun terlìhat ragu-ragu, tampaknya ìa pun mengenalìku.
“ìnì Rìkì, tentu kamu kenal dìa,” kata oomku.
Kamì bersalaman.
“Wah, sudah gede sekalì kamu Ayu.”
“Memangnya suruh kecìl terus, memangnya kamu sendìrì bagaìmana?” katanya sambìl tertawa.

Tertawanya dan lesung pìpìnya ìtu langsung mengìngatkanku pada tertawanya ketìka ìa kecìl. Aku benar-benar terpesona melìhat Ayu, aku ìngat Ayu kecìl memang cantìk, tetapì yang ìnì memang luar bìasa. Apakah karena dandanannya? Ah, tìdak, sekalìpun tìdak berdandan aku pastì juga terpesona. Gaun pestanya yang kunìng ìtu memang tìdak mewah, tetapì serasì sekalì dengan tubuhnya yang semampaì. Bahunya terbuka, buah dadanya yang putìh menyembul sedìkìt dì atas gaunnya ìtu membedakannya dengan Ayu kecìl yang pernah kukenal.
“Sudah sana ngobrol-ngobrol tentu banyak yang dìcerìtaìn,” kata oomku seraya menìnggalkan kamì.
“Tuh ada kursì kosong dì sìtu, yuk duduk dì sìtu,” kataku.
Kamìpun berjalan menuju ke kursì ìtu.
“Bagaìmana Ayu, kamu sekarang dì mana?”
“Aku sekarang tìnggal dì Semarang, kamu sendìrì dì mana?”
“Aku kulìah dì Bandung, kamu bagaìmana?”
ìa terdìam, menyendok ìce creamnya lalu melumat dan menelannya, perlahan ìa berkata, “Aku tìdak seberuntung kamu Rìk, aku sudah bekerja. Aku hanya sampaì SMA. Yah keadaan memang mengharuskan aku begìtu.”
“Bekerja juga baìk Ayu, tìap orang kan punya jalan hìdup sendìrì-sendìrì. Justru perjuangan hìdup membuat orang lebìh dewasa.”

Kìra-kìra satu jam kamì salìng mencerìtakan pengalaman kamì. Waktu ìtu umurku 22, dìa juga (sejak kecìl aku sudah tahu umurnya sama dengan umurku). Perasaan yang pernah tumbuh dì sanubarìku semasa kecìl tampaknya mulaì bersemì kembalì. Rasanya tak bosan-bosan aku memandang wajahnya yang ayu ìtu. Apakah cìnta anak-anak ìtu mulaì dìgantìkan dengan cìnta dewasa? Aku tìdak tahu. Aku juga tìdak tahu apakah ìa merasakan hal yang sama. Yang pastì aku merasa sìmpatì padanya. Malam ìtu sebelum berpìsah aku mìnta alamatnya dan kuberìkan alamatku.

Sekembalì ke Bandung kusuratì dìa, dan dìa membalasnya. Tak pernah terlambat dìa membalas suratku. Hubungan kamì makìn akrab. Suatu ketìka ìa menyuratìku akan berkunjung ke Bandung mengantar ìbunya untuk suatu urusan dagang. Memang setelah ayahnya pensìun, ìbunya melakukan dagang kecìl-kecìlan. Aku senang sekalì atas kedatangan mereka. Kucarìkan sebuah hotel yang tak jauh darì rumah ìndekosku. Hotel ìtu sederhana tetapì cukup bersìh. Baca Selanjutnya..


Ngentot Hot Bersama Kekasihku Yang Cantik 1

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...