Cerita Ngentot Lari Pagi

cerita-ngentot-lari-pagi

Cerita Ngentot Lari Pagi merupakan website Kumpulan Cerita Dewasa terbaik dan terpercaya yang kami hadirkan di media seperti, Cerita Dewasa SPG, Cerita Dewasa SMP, Cerita Sex Ngentot serta Cerita Sedarah terbaru dan masih banyak lagi.

Cerita Ngentot Lari Pagi

true2life.biz adalah Foto Cewek Bugil, Cerita Ngentot, Foto Bugil Tante, dan Video Sex terbaru Tahun ini Cerita Seks Terbaru dimana anda bisa sange dengan membacanya dan pasti anda akan langsung coli…..

Cerita Ngentot – Kenalkan nama saya, Anís. Usía 38 tahun, tínggí 150 cm dan berat badan 60 kg, warna kulít coklat kehítaman serta rambut lurus.
Sekítar 40 harí yang lalu, tepatnya dí harí mínggu sekítar jam 5.00 subuh. Aku keluar rumah untuk olah raga atau berlarí subuh sebagaímana yang kulakukan setíap harí mínggu subuh. Namun, kalí íní larí subuh yang kulakukan amat bermakna, sebab aku díkawaní oleh seorang tetangga dekat. Sebut saja namanya “Dírga”. Día ialah ístrí sah orang laín yang sudah memílíkí 2 orang anak, tapí penampílannya masíh cukup menarík. Kulítnya mulus, putíh dan tubuhnya langsíng.

Ketíka aku keluar melewatí píntu pagar,  samar-samar aku melíhat sesosok tubuh  kaos warna hítam melekat dí tubuhnya serta celana setengah panjang tergantung dí atas lututnya membongkar píntu rumahnya lalu mengíkutíku. Aku tetap saja jalan agak cepat dan berpura-pura tídak memperhatíkannya, tapí waktu aku memasukí sesuatu lorong, íapun semakín dekat dí belakangku. Aku amat yakín kalau Dírga sengaja mengejarku untuk berlarí subuh .
“Pak, tunggu Pak” panggílnya darí belakang, tapí aku tetap berlarí, tapí sengaja kukurangí kecepatannya agar ía bísa lebíh dekat ku.
“Pak Nís, tunggu donk Pak, aku capek níh, kíta sama-sama aja” teríaknya  nada/suara yang tídak terlalu keras.

Sesudah kudengar nafasnya terengah-engah gara-gara jaraknya sudah semakín dekat ku, mungkín sekítar 10 meters dí belakangku, aku lalu berhentí menantinya, sebab kedengarannya ía capek sekalí.
“Ada apa Bu, mengapa íbu mengejarku?” tanyaku sambíl berhentí.
“Tídak ada apa-apa. Aku cuma mengejar bapak agar kíta bísa larí , bíar lebíh santaí dan kíta bísa sambíl bercakap-cakap” katanya  nafas terputus-putus gara-gara kecapean. sesudah Dírga berada dí sampíng kíríku, kamí lalu larí , tapí kalí íní tídak terlalu kencang, bahkan terkesan larí-larí kecíl, yang pentíng tubuh kamí bísa bergerak-gerak sehíngga terkesan berolahraga pagí.
“Ngomong-omong, apa íbu juga  rutín larí subuh setíap harí mínggu?” tanyaku pada Dírga sambíl berlarí kecíl.
“Nggak kok, cuma nasib baik kudengar píntu rumah bapak terbuka dan kulíhat bapak keluar berpakaían olah raga, sehíngga tíba-tíba aku juga tertarík untuk menyegarkan tubuh dan menghírup udara subuh” jawabnya. “mengapa Nggak sekalían keluar sama suamí íbu atau anak-anak íbu?” tanyaku lagí sambíl tetap berlarí. “Anu Pak, suamí saya ítu baru saja pulang darí jaga malam, maklum kerjaan satpam jarang sekalí bermalam dí rumah” jawabnya santaí.

Nasib baik suamí Dírga tugas malam sebagaí satpam pada salah satu perusahaan swasta dí kota kamí. Mendengar ucapan Dírga ítu, aku jadí terpancíng untuk menanya lebíh jauh tentang kehídupan rumah tangganya. Apalagí kamí sudah seríng bícara humor. Aku amat paham kalau Dírga orangnya terbuka, lugu dan sedíkít genít. Aku merasa mempunyai peluang besar untuk menanya lebíh banyak wujudnya soal jalinannya  suamínya.
“Maaf Bu, kalau aku terlalu jauh menanya. Jadí ke-2 anak íbu ítu dícetak pada síang harí seluruh donk, sebab suamí íbu jarang berada dí rumah pada malam harí,” kata saya pada Dírga, namun ía tetap tídak tersínggung, bahkan Rupanya ía tetap bersíkap bíasa-bíasa saja. “Bukan pada síang harí Pak, tapí pada subuh dan pago harí, sebab bíasanya suamí saya pulang pada subuh harí dan langsung saja mengambíl jata malamnya, apalagí dalam situasi  ía haus,” katanya santaí. sesudah capek, kamí berístírahat sebentar dí atas jembatan sambíl bersandar dí pagar besí jembatan. nasib baik dí atas jembatan ítu, banyak orang sedang bercakap-cakap dan mengulas masalahnya masíng-masíng. “Bu Dír, kalau begítu waktu anda  terkait  suamí anda senantiasa síngkat dan dílakukan  terburu-buru, sebab anak-anak anda sudah mulaí bangun, lagí pula suamí anda amat ngantuk” pancíngku pwujudnya.
“Yah begutulah kebíasaan kamí, lalu mau apa lagí jíka memang waktunya yang palíng tepat cuma waktu ítu. Sebab dí síang harí, anak-anak kamí pada berkelíaran dalam rumah dan tamu-tamupun yang datang harus dísambut” katanya seríus, tapí tetap santaí.
“Kalau begítu anda tídak pernah meníkmatí jalinan suamí ístrí yang sesungguhnya sebagaímana layaknya suamí ístrí” pancíngku lagí.
“Kok mengapa tídak, kamí merasa sama-sama meníkmatínya. Buktínya kamí punya dua orang anak” katanya seríus sekalí sambíl memandangíku.

Cerita Ngentot Lari Pagi || Tanpa berhentí bícara, kamí lalu berjalan lagí memutar ke jalan menuju rumah kamí kembalí. Aku coba memíkírkan apa lagí yang bisa kutanyakan pada Dírga mengenaí jalinannya  suamínya. íní peluang emas bagíku untuk mengetahuí lebíh dalam lagí tentang kehídupannya dí atas ranjang  suamí, sebab aku berníat  bikin ía penasaran agar merasa membutuhkan sex lebíh darí yang dídapatkan darí suamíanya. Aku sesungguhnya íngín merangsang día agar mau melakukan  juga ku.
“Bu Dír, sex ítu sesungguhnya melebíhí darí apa yang anda lakukan  suamí anda. Suamí-ístrí harus meníkmatí kepuasan berkalí-kalí mínímal selama 3 jam tanpa sedíkítpun rasa tergesa-gesa dan takut.  bikin terapan berbagaímacam style dan posísí. Anda tentu tídak sempat meníkmatí seluruh ítu khan?” jelas saya pada Dírga panjang lebar.
“Oh yah, tapí bagaímana caranya jíka suamíku tídak memungkínkan melakukan hal ítu atau tídak mau
membuatnya?” tanyanya seríus.Cerita Selengkapnya

Itu baru awalan dari Cerita Dewasa Cerita Ngentot Lari Pagi, untuk selengkapnya Cerita Bokep Cerita Ngentot Lari Pagi klik disini. Terimakasih atas kunjungan anda ke website Ini.

Terima Kasih Telah Membaca Cerita Dewasa Diatas

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...