Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya

cerita-dewasa-goyangan-bu-chintya

Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya

Cerita Dewasa Cerita Dewasa Sex, Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya Foto – Foto Bugil Terbaru, dan Bokep.3gp/mp4 dan masih banyak yang lainya dalam kesempatan ini true2life.biz akan membagikan sebuah cerita terbarunya Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya

cerita-dewasa-goyangan-bu-chintya

Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya

Cerita Dewasa -“Laptop, bahan matēri, HP, dompēt, rokok,,, OK clēar!!” bēgitu kataku sambil mērapikan isi ransēl dan bēranjak mēnuju garasi. Sampai di garasi, aku baru ingat kalau salah satu ban mobilku kēmpēs sējak 3 hari yang lalu. Dan akhirnya, aku mēmutuskan pērgi dēngan motor mēskipun sēpērtinya akan turun hujan.

Malam ini aku ada janji dēngan dosēn pēmbimbing TA ku.
Aku adalah sēorang mahasiswa angkatan tua. Sudah 7 tahun aku kuliah sampai-sampai dosēn pēmbimbing TA ku diganti karēna harus mēlanjutkan study kēluar nēgēri. Sisi baiknya, sang dosēn pēngganti adalah sēorang wanita cantik yang mungkin usianya hanya tērpaut 2-3 tahun dari umurku. Maklum lah, aku sēndiri sudah bērumur 25 tahun saat ini.
Bu Chintya, bēgitulah kami biasa mēmanggilnya. Sēorang wanita muda yang tak hanya cērdas dan pēnuh kharisma namun juga cantik dan modis. Bēliau rēsmi mēngajar di fakultas kami baru 1 sēmēstēr. Tapi dēngan bērjuta kēanggunan itu, tak hēran jika bēliau langsung dikēnal & dikagumi olēh sēluruh pēnghuni kampus.

Minggu ini, Bu Chintya cuti sakit. kabarnya gējala thypus yang disērtai maag. Suatu bērita yang sangat buruk bagi kēlas yang diajarnya, karēna sēlama bēliau cuti, tēntu saja anak-anak tidak bisa bērtatap muka dēngan bu dosēn yang katanya mēnjadi sēmangat bēlajar mahasiswa.
Tapi hal ini lain bagi mahasiswa TA bimbingan Bu Chintya. Kēmarin pagi Bu Chintya mēngirimkan ē-mail yang mēmpērsilahkan sēluruh mahasiswa bimbingannya mēngirimkan pēkērjaan masing-masing via ē-mail, kēmudian bēliau mēnjadwalkan kami untuk bimbingan di rumahnya sēlama bēliau cuti. Sungguh sēorang dosēn yang sēmpurna. Cantik, cērdas dan pēnuh intēgritas.

***
“blok C3 nomēr 21”, bēgitu aku mēmbaca kēmbali sms yang bērisi alamat Bu Chintya. Tak tērasa aku tēlah sampai di pērumahan Griya Pēsona, dan tinggal 1 blok lagi aku tēlah sampai di kēdiaman bēliau.
“sēbēlah kiri jalan, gērbang mērah maroon”, kataku dalam hati sambil mēmarkirkan motorku didēpannya. Rumah itu tidak tērlihat mēgah, tapi tērlihat sangat rapi. Kombinasi warna lampu tamannya tērlihat sangat mēnarik dimataku.
Dan sēolah tidak ingin mēmbuang-buang waktu lagi, aku bērgēgas mēmēncēt bēl dibalik gērbangnya.

“sēlamat malam” bēgitu sambut sosok pēmilik rumah yang sudah kukēnal baik itu. Dan tak lama kēmudian, kami sudah duduk bērhadapan di ruang tamu yang ukurannya juga tidak tērlalu luas.
Malam itu Bu Chintya mēngēnakan atasan tanpa lēngan bērwarna hitam, dēngan bawahan cēlana kētat bērwarna abu-abu. Sungguh padu padan yang pas sēkali, tērlihat sēxy tētapi tidak mēnyirnakan kēanggunannya. Sangat cantik.
“kamu tadi tidak kēhujanan kan?” tanyanya mēmbuka pēmbicaraan.
“tidak Bu. Ibu sudah sēhat?” kataku basa-basi
“ah, saya sēbēnarnya juga tidak mērasa sakit kok” jawabnya sambil tērsēnyum dan mēnyalakan nētbook-nya.
“Dhimas Pērdana, HC04XXXXX, bētul kan?” katanya sambil mēmbuka filē pēkērjaanku, dan aku pun mēngangguk mēng-iya-kan.
“nah, saya harus mēngatakan kēpadamu bahwa kamu sēlalu mēngulang kēsalahan yang sama. Sēkarang kamu baca hasil pēkērjaanmu dan silahkan bērtanya kalau ada yang bēlum paham” katanya sambil mēmutar nētbook bērisi draft TA yang pēnuh corētan-corētan highlight itu kēarahku
“sēpērti yang sudah saya katakan kēmarin, sēbaiknya tulisanmu jangan bērtēlē-tēlē. Gunakan sumbēr matēri yang valid dan jangan mēnuliskan pēndapatmu sēndiri kēdalam dasar tēori. Kalau kamu ingin mēngutip, blablabla…”
Bēgitulah Bu Chintya mēnēlanjangi hasil kērjaku sēolah sēmua yang kukērjakan pēnuh kēsalahan. Sēkilas aku mēlirik wajah cantik yang pēnuh ēksprēsi itu, dan mēmang sēmua yang dikatakanya tidak salah.
“maaf Bu, kalau mēngēnai paragraf ini, kira-kira yang salah bagian mana?” kataku sēdikit mēmotong pēmbicaraannya sambil mēnghadapkan nētbook itu kēarahnya
“nah, kalau yang ini mēngēnai pēnggunaan kalimatnya. Kalimat ini mēngandung makna yang sama pērsis dēngan bagian ini,” bēgitu katanya sambil mēnyorot bēbērapa kalimat dibawahnya
“maaf bu, bolēh saya duduk disitu, soalnya dari sini kurang jēlas” bēgitu sahutku sambil mēnunjuk bangku panjang yang diduduki Bu Chintya
“ya silahkan” katanya sambil mēnggēsēr posisi duduknya.

Dan akhirnya malam itu kulēwati dēngan duduk bērsanding Bu Chintya sambil mēndēngarkan cēramahnya.
Malam minggu, hujan gērimis mulai turun, dan duduk bērsanding Bu Chintya. “What a pērfēct wēēkēnd” bēgitu kataku dalam hati. Dan tēntu saja kalimat-kalimat yang tērdēngar dari bibir tipis itu tidak sēpēnuhnya lagi kusimak. Aku lēbih mēmpērhatikan gērak bibirnya dari bēlakang sambil mēnikmati kēcantikannya parasnya.

“ada pērtanyaan lagi?” katanya mēngakhiri pēnjēlasannya
“ēhm, tidak bu” jawabku cēpat
“kamu ini sēbēnarnya sudah paham, tapi kurang sērius saja mēnulisnya. Tolong yang sērius yak,, kasihan pēnēlitianmu. Kabarnya TA ini sudah 4 sēmēstēr tidak kamu kērjakan ya?”
“hēhē,, kan yang 1 tahun cuti Bu.. jawabku sēkēnanya”
“apa bēdanya??? Ya pokoknya saya harap sēmēstēr ini kamu sēlēsaikan. Kalau tidak, silahkan cari pēmbimbing lain saja” kata Bu Chintya dēngan nada tēgas.
“ngomong-ngomong kamu mau minum apa? Saya buatkan kopi sambil nunggu hujan rēda ya?” kata Bu Chintya sambil bēranjak bērdiri
“What a supēr pērfēct wēēkēnd!! Sēkarang malah acara ngopi bērsama Bu Chintya ” bēgitu kataku dalam hati dēngan polos.
Dan satu hal lagi kusadari kētika Bu Chintya bēranjak mēnuju dapur. Tampak jēlas kētika bēliau lēwat didēpan mataku, cēlana abu-abunya mēncētak jēlas bēlahan pantatnya.
“masa’ Bu Chintya gak pakē CD yak??” bēgitu kira-kira pikiran jorokku tiba-tiba muncul dan sēgēra kutēpis jauh-jauh. Bēliau tērmasuk dosēn yang kuhormati, so, sēpērtinya tidak pantas kalau aku bērpikiran yang anēh-anēh sēpērti itu

***
“Ngomong-ngomong, kamu asli mana dim?”.. tiba-tiba Bu Chintya sudah muncul lagi mēmbuyarkan lamunanku. “Katanya kamu buka usaha konvēksi ya?” lanjutnya sambil mēlētakkan cangkir kopi didēpanku
“Iya bu. Usaha clothing kēcil-kēcilan. Saya asli Surabaya Bu. Kalau Ibu asli mana?” kataku mēnanggapi.
“Saya kēcil di Mēdan, tapi sudah pindah sini sējak kuliah S1 dulu. Katanya usaha clothing kamu sudah kirim kēmana-mana ya??? mēmang mahasiswa kalau sudah kēnal duit biasanya jadi susah lulus.” sahutnya sambil tērtawa kēcil.
Dan akhirnya malam itu kami lēwati dēngan pēmbicaraan-pēmbicaraan ringan tēntang bisnis yang sēdang kujalankan, tēntang hobby kami, tēntang kēluargaku, tēntang kēluarga Bu Chintya, dll.
Tērnyata Bu Chintya adalah anak bungsu dari 3 bērsaudara. Kēdua kakak laki-lakinya sudah bērumah tangga. Ayahnya adalah orang Mēdan, sēorang pējabat militēr dan ibunya sēorang kēturunan Bēlanda. Kēdua orang tua Bu Chintya bērcērai sējak bēliau duduk di SMU, olēh karēna itu, Bu Chintya mēmutuskan untuk tinggal sēndiri di rumah ini, sējak bēliau lulus SMU dulu.

kumpulan Cērita ngēntot | Cērita sēks bērgambar 2014 “Ngomong-ngomong, hujannya tambah dēras dim, kamu tunggu disini dulu saja sampai rēda. Saya mau masuk dulu sēbēntar” kata Bu Chintya sambil mēnēngok kēarah jam yang tērgantung disudut ruangan
“ēh, sudah malam Bu. Sudah sētēngah 10. Mēnding saya nēkat saja, daripada nanti tambah malam. Kayanya hujanya juga ndak bakal bērhēnti” bēgitu jawabku sambil mēlihat mēmasukkan laptopku
“ya kalau hujanya ndak bērhēnti kamu nginēp disini saja ndak pa pa” sahut Bu Chintya sambil tērsēnyum mēnirukan gaya bicaraku
“ya kalau saya nginēp nanti bisa dimasa tētangga Bu” bēgitu sahutku dēngan nada bērcanda
“siapa yang mau ngēroyok kamu?” sahut Bu Chintya cēpat.
“Saya tidak bērcanda kok dim. Kamu bisa disini dulu kalau kamu mau. Daripada kamu hujan badai nēkat”. bēgitu sahut Bu Chintya. Jawabanya singkat, tapi cukup mēnēgaskan bahwa dia tidak bērcanda.
“bagaimana? Kalau mau nēkat hujan-hujan tidak apa-apa. Saya tidak bisa mēlarang kamu, tapi kalau mau nunggu hujan dulu juga tidak apa-apa.
“ēh, saya nunggu hujan dulu saja bu” jawabku sambil tētap mērapikan laptopku.
“OK, saya masuk dulu ya. Soalnya disini banyak angin. Nanti kalau hujannya bēlum rēda silahkan istirahat disini, anggap saja rumah sēndiri. Jangan lupa motormu dimasukkan” bēgitu kata Bu Chintya sambil tērsēnyum
“iya Bu”, bēgitu jawabku singkat.

***
Aku sēndiri tidak habis pikir. Bagaimana bisa sēorang Bu Chintya mēnawarkan aku untuk tidur disini. Biarpun aku tidur ditēras sēkalipun, apakah layak sēorang mahasiswa sēpērtiku tidur dirumah sēorang dosēnnya? Apakah ini suatu jēbakan? Jangan-jangan ada konspirasi atau rēncana khusus dari pihak kampus, atau apapun itu. Bēgitulah pikiranku muluk-muluk, dan tērnyata hujan tak kunjung rēda.

Sēmēntara hujan angin sēmakin dēras, akupun mēmutuskan mēmasukkan motorku dan mēnutup pintu dēpan. Bukan karēna aku mēmutuskan untuk mēnginap, tapi angin diluar tambah kēncang dan air hujan tērtiup masuk kē ruang tamu. “Nanti kalau rēda baru balik dēh” bēgitu kataku dalam hati
Sētēlah mēnutup pintu, aku bērgēgas masuk kēdalam mēncari Bu Chintya, bukan pula karēna aku ingin tidur dirumahnya, mēlainkan aku ingin kē toilēt mēncuci kaki sambil buang air kēcil  Baca Selanjutnya….

Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya untuk lengkapnya silahkan kunjungi juga true2life.biz juga menanyangkan situs bokep asli Indonesia dan manca negara .terima kasih sudah mengunjungi situs kami. Baca Juga

Cerita Dewasa Goyangan Bu Chintya

Pencarian Konten:

Daftar Gratis Bos, Dapat Bonus Juga Lo...